Rabu, 25 September 2013

EMPIRISME, DEDUKTIF, DAN INDUKTIF

EMPIRISME
  • Pengertian Empirisme
Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Oleh karena itu, adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, maka pandangan terhadap filsafat mulai merosot. ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya di peroleh lewat indera (empiri), dan empirislah satu-satunya sumber. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme. Empirisme adalah salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengalaman itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.
Empirisme, berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indra. Indra memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudian kesan-kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia, sehingga menjadi pengalaman.
Untuk memahami inti filsafat empirisme perlu memahami dulu dua ciri pokok empirisme yaitu mengenai makna dan tiori tentang pengetahuan.
1)      Filsafat empirisme tentang teori makna, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola jumlah yang dapat di indra dan dihubungkan kualitas sebagai urutan pristiwa yang sama.
2)      Filsafat emperisme tentang teori pengetahuan, menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya.

·         Tokoh-tokoh Dalam Aliran Empirisme
Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbles, David Home dan Jhon Lock, Sebagai berikut :
  1. Francis Bacon (1210-1292 M)
Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati. Kata Bacon selanjutnya, kita sudah terlalu lama dpengaruhi oleh metode deduktif. Dari dogma-dogma diambil kesimpulan, itu tidak benar, haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkret mengelompokkan, itulah tugas ilmu pengetahuan. 
b.      Thomas Hobbles (1588-1679 M)
Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika Skolastik dan Fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab gurunya beraliran Aristotelien. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah suatu sistem materialistis yang besar, termasuk juga kehidupan organis dan rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori teori Kontrak Sosial.
 Materialisme yang dianut Hobbes yaitu segala yang bersifat bendawi. Juga diajarkan bahwa segala kejadian adalah gerak yang berlangsung secara keharusan. Bedasarkan pandangan yang demikian manusia tidak lebih dari satu bagian alam bendawi yang mengelilinginya. Manusia hidup selama jantungnya tetap bergerak memompa darahnya. Dan hidup manusia merupakan  gerak anggota-anggota tubuhnya. Menurutnya pula akal bukanlah pembawaan melainkan hasil perkembangan karena kerajinan. Ikhtiar merupakan suatu awal gerak yang kecil yang jikalau diarahkan menuju kepada sesuatu yang disebut keinginan, dan jika diarahkan untuk meninggalkan sesuatu disebut keengganan atau keseganan. Menurutnya pula pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan, yang disimpan didalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengamatan, yang disipan dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau. [3]
Pendapatnya tentang ilmu filsafat yaitu suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Karena filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan Tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebab-sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ilmu alam.
Menurut Thomas Hobbles berpendapat bahwa pengalaman  indrawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan data-data indrawi belaka. Pengikut aliran empirisme Thomas Hobbles yang lain diantaranya : Jhon Locke (1632-1704 M), David Hume (1711-1776 M), Geege Berkeley(1665-1753 M). 
c.       Jhon Locke (1632-1704 M)
Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Dismaping itu sebagai ahli hukum, ia menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran manusia harus tahu sampai seberapa jauh ia memakai kemampuannya.
Ia menentang teori rasionalisme, menurutnya segala pengetahuan datang dari penglaman dan tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan pengetahuan dari dirinya sendiri diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna oleh berbagai pengalaman.
Dalam penelitiannya John Locke menggunakan istilah Sensation dan Reflection. Sensation (pengalaman lahiriah) adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, Sedangkan reflection (pengalaman batiniah) pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia tentang kondisi psikis diri kita sendiri. Tiap-tiap pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari Sensation  dan reflection. Ttidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.
Buku Locke, Essay Concerming Human Understanding (1689) ditulis berdasarkan satu premix yaitu semua pengetahuan datang dari pengetahuan. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan ide untuk konsep tentang sesuatu yang ada dibelakang pengalaman tidak ada ide yang diturunkan seperti yang diajarkan Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate ide ; adequate idea dari Spinoza, truth of reason dari Leibeninz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan) itu tidak ada. 
Inilah argumennya :
  • Dari jalan masuknya pengetahuan kita megetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umum orang bertanggapan bahwa innate itu ada. Seperti yang ditempelkan pada jiwa manusia dan jiwa membawanya kedunia lain.
  • Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang innate idea justru disajikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
  • innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekali juga diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate ide jusrtu saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
·         Tidak juga dicetakan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berpikir.
Ia mengatakan bahwa apa yang dianggapnya pada jiwa substansi adalah pengertian tentang object sebagai idea tentang object itu yang dibentuk oleh jiwa berdasarkan masukan dari indra. Akan tetapi, Locke tidak berani menegaskan bahwa ide itu adalah substansi obyek. Substansi adalah persoalan metafisika sepanjang masa.

d.      David Home (1711-1776 M)
Empirisme, berpendirian bahwa hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Home termasuk dalam aliran empirisme radikal menyatakan, bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransangan indra). William James menyatakan, bahwa pernyataan tentang fakta adalah hubungan di antara benda-benda, sama banyaknya dengan pengalaman khusus yang diperoleh secara langsung panca indra.
e.       Herbert Spencer (1820-1903 M)
 Herbert Spencer berpusat pada  teori  evolusi. Sembilan tahun sebelum terbitnya karya Darwin yang terkenal. The Origin of Species (1859 M), Spencer sudah meneribitkan bukunya tentang teori evolusi. Empirismenya terlihat jelas dalam filsafat tentang the great unkwable (fenomena-fenomena atau gejala-gejala). Memang besar dibelakang gejala- gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolut itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala. Yang dibelakang gejala-gejala ada sesuatu yang oleh spenser disebut yang tidak diketahui.
·         Ide pokok Empirisme
ü  pandangan bahwa sebuah idea tau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
ü  Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan akal atau rasio.
ü  Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data indrawi.
ü  Semua pengetahuan turun secara langsung, atau disimpulkan secara tidak langsung dari data indrawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika
ü  Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman.
ü  Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Tokoh-tokoh empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobbes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada 2 tokoh berikutnya John Locke dan David Hume
·         Proses Mendapatkan Pengetahuan dalam Empirisme
Golongan empirisme memiliki pandangan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman. Hal ini dapat kita lihat seperti dalam masalah berikut. “Bagaimana kita mengetahui api itu panas?” Maka, seseorang empirisme akan berpandangan bahwa api itu panas karena memang dia mengalaminya sendiri dengan menyentuh api tersebut dan memperoleh pengalaman yang kita sebut “panas”. Dengan kata lain, dengan menggunakan alat inderawi peraba kita akan memperoleh pengalaman yang menjadi pengetahuan kita kelak.
John Locke, Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh melalui penginderaan serta refleksi yang sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secar demikian itu bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
INDUKTIF DAN DEDUKTIF
·         Tahap Induksi
Menurut Aristoteles setiap hal yang khusus adalah sebuah kesatuan dari materi dan bentuk-bentuk. Materi adalah apa yang menyebabkan semua hal yang khusus merupakan sebuah individu yang unik, dan bentuk adalah apa yang menyebabkan hal khusus merupakan sebuah anggota dari sebuah kelas dari ha-hal yang sama. Misalnya, bentuk seekor jerapah tertentu termasuk binatang yang mempunyai perut empat kamar.
Aristoles berkeyakinan bahwa melalui induksi, generalisasi-generalisasi (kesimpulan-kesimpulan umum) tentang bentuk, ditarik dari pengalaman penginderaan. Dia membahas dua tipe induksi, yaitu (1) perhitungan sederhana, dan (2) induksi intuitif. Dua tipe induksi tersebut mempengaruhi ciri cara kerja penarikan kesimpulan, dari pernyataan-pernyataan khusus menjadi pernyataan-pernyataan umum.
Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena yang ada, maka disebut sebagai sebuah corak berpikir yang ilmiah karena perlu proses penalaran yang ilmiah dalam penalaran induktif.
Pengertian fenomena sebagai landasan induktif harus diartikan sebagai data maupun sebagai pernyataan-pernyataan yang tentunya bersifat factual. Sehingga induksi dapat berasal dari fenomena yang berbentuk fakta atau berbentuk pernyataan–pernyataan (proposisi-proposisi).
Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan ’dari bawah ke atas (bottom up)’.
·         Tahap Deduksi
Tahap kedua dalam penyelidikan ilmiah, kesimpulan-kesimpulan umum yang ditarik melalui induksi dipergunakan sebagai premis-premis untuk deduksi dari pernyataan-pernyataan tentang observasi yang pertama. Aristoteles memberikan suatu pembatasan yang penting pada macam-macam pernyataan yang dapat digunakan sebagai premis-premis dan kesimpulan dari penalaran deduktif dalam ilmu. Dia hanya memperbolehkan jenis pernyataan-pernyataan ilmiah tersebut yang menegaskan bahwa sebuah kelas dimasukkan dalam sebuah kelas yang kedua atau yang dikeluarkan dari kelas kedua tersebut. Jika “S” dan “P” di pilih untuk mewakili dua kelas pernyataan-pernyataan yang diperbolehkan oleh Aristoteles adalah jenis pernyataan-pernyataan seperti tampak pada 1.
Tipe
Pernyataan
Hubungan
A
E
I
O
Semua “S” adalah “P”
Bukan “S” adalah “P”
Beberapa “S” adalah “P”
Seberapa “S” adalah “P”
“S” termasuk seluruhnya  dalam ”P”
“S” tidak termasuk selurunya dalam ”P”
“S” termasuk sebagian dalam ”P”
“S” tidak termasuk sebagian dalam ”P”

Keterangan:
A = pernyataan universal afirmatif, contoh : semua manusia adalah fana
E  = pernyataan unifersal negatif, contoh : tak seorang pun manusia adalah abadi
I = pernyataan khusus afirmatif, contoh : sebagian manusia adalah kaya
O = pernyataan khusus negatif , contoh : beberapa manusia adalah tidak kaya
S = subjek atau pokok kalimat
P = predikat atau sebutan kalimat 
Sebagai suatu istilah penalaran, deduksi adalah suatu proses penalaran (berpikir) yang bertolak dari proposisi yang telah ada yang menuju sebuah proposisi baru yang menjadi sebuah kesimpulan. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan ‘dari atas ke bawah (top down)’.
HUBUNGAN ANTARA PEMIKIRAN DEDUKTIF DAN INDUKTIF
Secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Dalam proses berpikir alamiah, pola penalaran didasarkan pada kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Di sisi lain, dalam proses berpikir ilmiah, pola penalaran didasarkan pada sasaran tertentu secara teratur dan sistematis.
Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dengan mengikuti jalan pemikiran tertentu agar sampai pada sebuah kesimpulan yaitu berupa pengetahuan (Suriasumantri :2005). Oleh karena itu, proses berpikir memerlukan sarana tertentu yang disebut dengan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu pula. Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah berupa: bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika (Bakhtiar : 2010). Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah digunakan sebagai alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah. Dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah pada dasarnya ilmu menggunakan penalaran induktif dan deduktif. Fungsi sarana berpikir ilmiah adalah untuk membantu proses metode ilmiah, baik secara deduktif maupun secara induktif.

DAFTAR PUSTAKA
Mudyahardjo, Dr. Redja. Filsafat Ilmu Pendidikan. Rosda. Bandung. 2010 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar