MAKALAH PPKN
WATAK BANGSA
DISUSUN
OLEH :
KELAS
1C
KELOMPOK
3
1.
MELLATIYAH NIM.
13142010168
2.
MEMET WAHYU NIM.
13142010169
3.
MIRANDA FITRAH BELA NIM.
13142010170
4.
MOH. HOFID NIM.
13142010171
5.
MOH. SYAIFUL RIZAL NIM.
13142010172
6.
MUHYINA NIM. 13142010173
7.
MUSTAQIM RUDIYANTO NIM.
13142010174
8.
NUR KOMARIYAH NIM.
13142010175
9.
NURUL ISTIYANA NIM.
13142010176
10.
NURUL KOMARIYAH NIM.
13142010177
11.
PUTRI ISABELLA NIM.
13142010178
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES
NGUDIA HUSADA MADURA
2013
MEMBANGUN KARAKTER DAN WATAK BANGSA
MELALUI PENDIDIKAN MUTLAK DIPERLUKAN
Apabila kita
simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas
mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama
adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi
lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku
dalam kehidupan sehari-hari.
Memang idealnya
demikian. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku
para anak didik kita yang kurang sopan, bahkan lebih ironis lagi sudah tidak
mau menghormati kepada orang tua, baik guru maupun sesama. Banyak kalangan yang
mengatakan bahwa "watak" dengan "watuk" (batuk) sangat
tipis perbedaannya. Apabila "watak" bisa terjadi karena sudah dari
sononya atau bisa juga karena faktor bawaan yang sulit untuk diubah, namun
apabila "watak" = batuk, mudah disembuhkan dengan minum obat batuk.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan
atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal,
bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh
sendi kehidupan manusia.
1. Makna
Pendidikan
Banyak
kalangan memberikan makna tentang pendidikan sangat beragam, bahkan sesuai
dengan pandangannya masing-masing. Azyumardi Azra dalam buku "Paradigma
Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi", memberikan
pengertian tentang "pendidikan" adalah merupakan suatu proses di mana
suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan
untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Bahkan ia menegaskan,
bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran, artinya, bahwa pendidikan adalah
suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan
kesadaran diri diantara individu-individu.
Di samping
itu, pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar ditanamkan selain menempa
fisik, mental dan moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia
yang berbudaya, sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia
yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan
terpilih sebagai khalifahNya di muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga
negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara.
2. Perkembangan
Pendidikan
Bangkitnya
dunia pendidikan yang dirintis oleh Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara untuk
menentang penjajah pada massa lalu, sungguh sangat berarti apabila kita cermati
dengan saksama. Untuk itu tidak terlalu berlebihan apabila bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang besar memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh
setiap tanggal 2 Mei ini, sebagai bentuk refteksi penghargaan sekaligus bentuk
penghormatan yang tiada terhingga kepada para Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan
Nasional. Di samping itu, betapa jiwa nasionalisme dan kejuangannya serta
wawasan kebangsaan yang dimiliki para pendahulu kita sangat besar, bahkan rela
berkorban demi nusa dan bangsa. Lantas bagaimana perkembangan sekarang? Sangat
ironis, memang. Banyak para pemuda kita yang tidak memiliki jiwa besar, bahkan
sangat mengkhawatirkan, janganjangan terhadap lagu kebangsaan kita pun sudah
tidak hafal, jangankan menghayati. Namun, kita sangat yakin dan semakin sadar,
bahwa hanya melalui dunia pendidikanlah bangsa kita akan menjadi maju, sehingga
dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia, sekaligus merupakan
barometer terhadap kualitas sumber daya manusia.
Krisis moneter
yang berlanjut dalam krisis ekonomi yang terjadi hingga puncaknya ditandai
dengan jatuhnya rezim Soeharto dari kekuasaannya pada Mei 1998 yang lalu, telah
mendorong reformasi bukan hanya dalam bidang politik dan ekonomi saja,
melainkan juga terimbas dalam dunia pendidikan juga. Reformasi dalam bidang
pendidikan, pada dasarnya merupakan reposisi dan bahkan rekonstruksi pendidikan
secara keseluruhan atau secara komprehensif integral. Reformasi, reposisi dan
rekonstruksi pendidikan jelas harus melibatkan penilaian kembali secara kritis
pencapaian dan masalah-masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan
nasional.
Apabila kita
amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh dan
harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan
pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif,
pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan pendidikan
nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan
kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk
karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan terjadi
adanya degradasi moral.
3. Reformasi
Pendidikan
Kita harus
sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat
penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar
lagi). Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis
yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum
ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah
bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu
Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera
nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa
atau rakyatnya menjadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang
dicita-citakan.
Banyak
kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah "kelatahan
sosial" yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini memang terjadi dengan
berbagai peristiwa, seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan
tanpa aturan, tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang
mempersatukan seluruh komponen bangsa, hak asasi manusia yang terkadang
mendahulukan hak daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah
berlakunya hukum rimba yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Kerancuan ini
menyebabkan orang frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam
bentuk "amuk massa atau amuk sosial".
Berhadapan
dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama
(masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada
negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu
pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat
Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan
saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja
hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak
(nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi
notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan
bangsa yang lebih maju dan beradab.
Oleh karena
itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter
atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi
kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun
Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban,
sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu
(integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang
dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan
mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility)
kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif,
merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani
Indonesia. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan yang meregenerasi seperti
halnya yang terjadi di IPDN yang menjadi sorotan akhir-akhir ini (Kompas 16/4),
Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut, sangat jelas
terkait pula dengan masih bertahannya "kekerasan struktural"
(structural violence) pada tingkat tertentu. Akibatnya, perdamaian hati secara
hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan.
4. Pendidikan
Karakter
Tidak perlu
disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus
melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan
sekolah, masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan
dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan
pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan
pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Dengan
demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan
pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana
disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah
untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati
dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah). Sedangkan
pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan
semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika,
estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan
(prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar,
menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan
mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya
menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan
menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus
untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan
sebagainya.
Di samping itu
tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga
sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan
masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai
etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321),
situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap
dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan
mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada
hal yang sama.
Apabila kita
cermati bersama, bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan,
penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas
oleh para pendidik kita, seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, Prof.
HA. Mukti Ali, Ki Hajar Dewantara misalnya, mengajarkan praktek pendidikan yang
mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan,
tetapi dengan "tuntunan" bukan "tontonan". Sangat jelas
cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan "among"' yang
lebih menyentuh langsung pada tataran etika, perilaku yang tidak terlepas
dengan karakter atau watak seseorang. KH. Ahmad Dahlan berusaha
"mengadaptasi" pendidikan modern Barat sejauh untuk kemajuan umat
Islam, sedangkan Mukti Ali mendesain integrasi kurikulum dengan penambahan
berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Namun mengapa dunia pendidikan kita
yang masih berkutat dengan problem internalnya, seperti penyakit dikotomi,
profesionalitas pendidiknya, sistem pendidikan yang masih lemah, perilaku
pendidiknya dan lain sebagainya.
Oleh karena
itu, membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan,
bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan
masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh.
Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan
selamanya. Seiring dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Tahun 2007
yang lalu dan mereka yang lahir pada tanggal yang sama, semoga panjang umur dan
berjiwa pendidik yang patut disuri tau-ladani generasi yang akan datang, bahkan
lestari selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar