Senin, 04 November 2013

MAKALAH FILSAFAT ILMU


MAKALAH FILSAFAT ILMU
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA SIOBAN




DISUSUN OLEH :
KELAS 1C
KELOMPOK 1 (SATU)

1.      BASHOVY FERDYANSYAH                                NIM. 13142010157
2.      ABDUL AZIZ Z                                                        NIM. 13142010147
3.      ANITA RAHMAN                                                   NIM. 13142010154
4.      DEDDY  ANDRIYAN UTAMA                            NIM. 13142010160
5.      MEMET WAHYU F                                                            NIM. 13142010169
6.      NURUL KOMARIYAH                                          NIM. 13142010177
7.      PUTRI ISABELLA                                                  NIM. 13142010178
8.      R. DINA KUNFILLAH                                           NIM. 13142010180
9.      SITTINA OKTAFIA SARI                                     NIM. 13142010185


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES NGUDIA HUSADA MADURA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Banyak rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta bimbingan dari dosen pembimbing (Ns.M.Hasinuddin,M.Kep), sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa. Tidak lupa pula kami mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami ini, di karenakan banyak kekurangan dalam mengerjakan makalah ini
                                                                                                                    


                                                                                                                      
                                                                                                        Bangkalan,7 Oktober 2013



                            Kelompok 1




I.                   LATAR BELAKANG
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin. Gizi merupakan salah satu penentu bagi pencapaian peningkatan kualitas SDM dan mempengaruhi kelangsungan hidup manusia (Siagian, 2011). Status gizi pada balita dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung berupa asupan makanan itu sendiri dan kondisi kesehatan anak misalnya infeksi. Sedangkan faktor tidak langsung adalah pengetahuan ibu tentang gizi, pendapatan keluarga, pelayanan kesehatan dan social budaya. Makanan dan minuman dapat memelihara kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang dan status gizi bahkan mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku seseorang terhadap makanan tersebut (Notoadmojo, 2003). Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak memegang peranan penting dalam menciptakan status gizi anak yang baik. Kerena anak belum bisa mengurus dirinya sendiri. Perilaku ibu dalam hal gizi menentukan status gizi anaknya tersebut apakah baik atau jelek. Perilaku ini salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki ibu terhadap gizi (Anonimus, 2008). Anak balita merupakan salah satu golongan penduduk yang rawan terhadap masalah gizi. Mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai. Bila sampai terjadi kurang gizi pada masa balita dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental (Tarigan, 2003). Berdasarkan data Puskesmas Sioban tahun 2010, jumlah anak balita di Desa Sioban sebanyak 345 orang, diantaranya balita yang memiliki status gizi baik 216 orang, balita yang memiliki status gizi kurang 105 dan balita yang memiliki satatus gizi buruk sebanyak 24 orang. Desa Sioban terletak di Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Desa Sioban memiliki jumlah penduduk kurang lebih 1.735 orang, sebagian penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan tingkat pendidikan yang bervariasi mulai dari lulus SD sampai Perguruan Tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang bervariasi maka tingkat pengetahuan yang dimiliki juga bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita di Desa Sioban Kabupaten Kepulauan Mentawai.

II.                TUJUAN PENELITIAN
Melakukan estimasi hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita di desa Sioban kabupaten kepulauan Mentawai.

III.             METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2012, bertempat di Desa Sioban Kabupaten Kepulauan Mentawai. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan format wawancara. Deskripsi daerah penelitian ini adalah Desa Sioban terletak di Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Luas daerah Sioban 65,31km². Ketinggian dari permukaan laut 2m. Desa Sioban memiliki jumlah penduduk kurang lebih 1.735 orang (BPS Mentawai,2010). Analisis data dengan menggunakan analisis Univariat dan Bivariat. Analisis Univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran distribusi frekwensi dari masingmasing variabel. Analisis Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel dengan menggunakan chisquare (X² ). Untuk uji kemaknaan hubungan digunakan tingkat kepercayaan 95% (0,95) dimana nilai p (p-value) pada tingkat kemaknaan 0,05 adalah sebagai berikut :
Bila p-value ≥ 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan antara dua variabel. Bila p-value < 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara dua variable (Arikunto, 2010).


IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Tabel 1. Hasil Distribusi Frekwensi Anak Balita Berdasarkan Status Gizi.

NO.
STATUS GIZI
FREKUENSI
%
1.
GIZI BURUK
24
32
2.
GIZI KURANG
26
34.66
3.
GIZI BAIK
25
33.33
JUMLAH
75
100


Tabel 2. Hasil Distribusi Frekwensi (Ibu) Berdasarkan Tingkat Pengetahuan.
NO
PENGETAHUAN
FREKUENSI
%
1.
BAIK
16
21.33
2.
KURANG
59
78.66
JUMLAH
75
100

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa status gizi balita dengan status gizi buruk 32%, gizi kurang 34,66% dan status gizi baik 33,33%. Berdasarkan informasi dari Puskesmas dan kader Posyandu terjadinya gizi kurang dan gizi buruk di Desa Sioban disebabkan karena masih terdapatnya ibu-ibu yang tidak membawa anaknya keposyandu setelah 2 tahun sehingga status gizi anak tidak terpantau dengan baik. Hal ini harus ditanggulangi secepatnya oleh pihak Puskesmas. Terjadinya gizi buruk pada anak merupakan dampak akhir dari sejumlah faktor, baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu adanya faktor resiko yang bersumber dari masyarakat, keluarga dan ibu sendiri mendorong atau mempermudah terjadinya gizi buruk (Moehyi, 2008). Masih terdapatnya gizi buruk dan gizi kurang di Desa Sioban ini mungkin disebabkan karena perilaku ibu yang masih rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian (Agus. Z, 2004) yang mengatakan bahwa kekurangan gizi pada balita dapat disebabkan pada perilaku ibu yang salah memilih bahan makanan yang cocok untuk anak. Kesalahan dalam perilaku ini akan berdampak pada keadaan status gizi dari anak balita. Anak balita merupakan salah satu kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi. Berdasarkan analisis univariat pada tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 75 responden 16 orang memiliki pengetahuan yang baik (21,33%), dan 59 orang Memiliki pengetahuan tentang gizi rendah (78,66%). Artinya lebih dari separuh ibu-ibu Memiliki pengetahuan yang rendah mengenai makanan bergizi, zat makanan, pemberian makanan pada balita, gangguan gizi, fungsi ASI, dan posyandu. Menurut (Notoadmojo, 2003) pengetahuan ibu dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya tingkat pendidi kan ibu, paparan informasi atau media masa. Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan melalui proses belajar. Dengan pengetahuan yang dimiliki manusia akan depat menganalisa permasalahan atu objek yang dihadapi dengan pola pikir yang logis dan rasional. Berdasarkan data yang didapat saat penelitian, rendahnya pengetahuan yang dimiliki ibu mungkin disebabkan karena tingkat pendidikan ibu lebih dari separuh adalah tamatan SD, dan bahkan ada yang tidak tamat SD. Hal ini sejalan dengan teori (Notoadmojo, 2003) yang mengatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan makin tinggi pula intelektualnya. Pendidikan merupakan hal penting utnuk meningkatkan pengetahuan karena pengetahuan merupakan faktor yang mendahului atau motivasi untuk perilaku. Beliau menggolongkan pendidikan seseorang menjadi pendidikan tinggi dan rendah. Pendidikan seseorang dikatakan tinggi jika tamatan SMA/sederajat dan jenjang Perguruan Tinggi sedangkan dalam pendidikan rendah tamatan SD atau tidak sekolah. Ibu yang berpendidikan rendah akan mempengaruhi pengetahuan tentang gizi seperti dalam pemilihan makanan penyusunan menu keluarga, pengolahan makanan yang disajikan pada balita. Selain itu pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor paparan informasi atau media masa. Informasi bisa diperoleh dari penyuluhan, buku, TV, surat kabar, dan lainlain. Seorang ibu yang hanya tamatan SD belum tentu pengetahuannya jauh lebih rendah dibanding dengan ibu-ibu yang tamat dari sekolah lanjutan, karena pengetahuan itu tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah namun pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari.
Analisis Bivariat.
Tabel 3. Hasil hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang Gizi dengan status Gizi balita di Desa Sioban.
PENGETAHUAN
STATUS GIZI
JUMLAH
BURUK
%
KURANG
%
BAIK
%
BAIK
2
12,5
0
0
14
87.5
16
KURANG
22
37,3
26
44
11
18,6
59
P = 0,05
Berdasarkan analisa bivariat pada tabel 3 dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi anak balita, dimana p=0,05 (P≥0,05). Artinya pengetahuan memiliki pengaruh terhadap status gizi anak. Dapat dilihat dari tabel 3 bahwa dari 59 orang memiliki pengetahuan yang rendah dengan anaknya berstatus gizi kurang dan gizi buruk. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi berpengaruh terhadap status gizi anak. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori (Suhardjo, 1996), menyatakan bahwa keadaan gizi kurang dan gizi buruk disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang kebutuhan makanan dan kurangnya pendidikan yang dimiliki oleh ibu. Selain itu, juga menyatakan bahwa dengan meningkatkan pengetahuan gizi ibu diharapkan semakin meningkat kemampuan ibu dalam memilih dan merencanakan makanan dengan ragam dan kombinasi yang tepat sesuai degan syarat gizi. Dari penelitian ini masih terdapat ibu yang memiliki pengetahuan tinggi tapi memiliki anak dengan status gizi buruk. Ketidak sesuaian ini bisa terjadi karena pengetahuan yang tinggi belum tentu diikuti oleh sikap dan praktek yang tinggi pula. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor lain keadaan ekonomi, keluarga yang termasuk keluarga miskin, tradisi dan keadaan lingkungan (Amos, 2001).
Cara Penanganan Gizi Buruk
Untuk menangani masalah gizi buruk, diperlukan kesiapan tenaga kesehatan dan masyarakat secara terpadu di tiap jenjang administrasi, termasuk kesiapan sarana pelayanan kesehatan, seperti Rumah Sakit, Puskesmas hingga Posyandu. Penderita gizi buruk harus dirawat inap di Rumah Sakit sesuai anjuran dan pedoman WHO yang kemudian ditindaklanjuti dengan pedoman yang disusun oleh Departemen Kesehatan RI. Dalam perkembangan selanjutnya, perawatan anak gizi buruk dapat dilakukan di Pusat Pemulihan Gizi (PPG). Tata laksana anak gizi buruk di Rumah Sakit atau PPG sesuai pedoman WHO terdiri dari 10 langkah, yaitu:7
- Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
- Mencegah dan mengatasi hipotermia
- Mencegah dan mengatasi dehidrasi
- Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
- Mengobati infeksi
- Memperbaiki defisiensi zat gizi mikro
- Pemberian makanan awal
- Meningkatkan pemberian makanan untuk tumbuh kejar
- Stimulasi perkembangan emosional dan sensorik
- Mempersiapkan tindak lanjut di rumah

Langkah-langkah tersebut dilakukan dalam 3 fase meliputi:
 penanganan awal (initial treatment), yaitu pada minggu pertama; rehabilitasi (rehabilitation) pada minggu kedua hingga keenam; dan tindak lanjut (follow-up) pada minggu ketujuh hingga minggu ke-26. Dalam pedoman yang disusun oleh Depkes tahun 1999, langkah-langkah penanganan tersebut dilakukan dalam 4 fase.12 Perbedaannya terletak pada penanganan minggu kedua hingga keenam atau fase rehabilitasi,
yang dibagi menjadi fase transisi, yaitu pada minggu kedua, dilanjutkan dengan fase rehabilitasi mulai minggu ketiga hingga keenam. Pemberian makanan pada anak gizi buruk dimulai dengan formula diet WHO, yaitu formula 75 (F75) dan formula 100 (F100). Komposisi formula diet ini terdiri dari susu, gula dan minyak, untuk F75 bisa ditambahkan tepung serealia. F75 mengandung energi 75 kkal untuk tiap 100ml larutan, sedangkan F100 mengandung energi 100 kkal untuk tiap 100 ml larutan. Jumlah formula diet yang diberikan sehari disesuaikan dengan kondisi klinis anak (ada tidaknya edema) dan BB anak. Selanjutnya diberikan makanan secara bertahap, yaitu tinggi kalori dan tinggi protein. Kriteria anak untuk keluar dari RS sesuai pedoman WHO antara lain adalah apabila telah tercapai BB/PB -1 SD.7 Kriteria tersebut tampaknya cukup sulit dicapai dan dalam pedoman yang dikeluarkan oleh Depkes pada tahun
2003, anak dikatakan sembuh apabila tidak ada gejala klinis dan BB/PB ≥ -2 SD. Sementara kriteria pemulangan anak dari ruang rawat inap di RS antara lain adalah apabila tidak ada gejala klinis gizi buruk
dan BB/PB ≥ -3 SD. Selanjutnya anak harus mendapatkan makanan tambahan pemulihan sampai status gizi anak mencapai > -2 SD, yaitu kategori sembuh dari gizi buruk.13 Untuk memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit dan defisiensivitamin, WHO telah menetapkankomposisi Mineral Mix (MM) dan VitaminMix yang selanjutnya dapat dibuat di masing-masing negara. Unsur mineral
dalam MM terdiri dari K, Mg, Zn, Cu, Na, I,sedangkan vitamin mix terdiri dari vitaminPGM 2011, 34(1): 1-11 Kajian penanganan anak gizi buruk dan prospeknya Arnelia5B1, B2, B5, B6, B12, asam folat, niasin, A,D, E dan K. Untuk Indonesia, MM sesuaispesifikasi WHO baru, tersedia secaraluas sejak tahun 2009 berupa serbukdalam kemasan saset dari perusahaanfarmasi nasional. Sebelumnya MM dalambentuk larutan baru dibuat secara terbatasdi beberapa instalasi farmasi RS, terutamauntuk memenuhi kebutuhan pasien yangdirawat di RS bersangkutan ataumemenuhi permintaan beberapa institusiyang membutuhkan. Untuk vitamin mixtampaknya tidak ada kendala karenasecara komersial cukup banyak tersediavitamin mix di Indonesia yang sesuai dengan komposisi yang dianjurkan.Pendekatan penanganan anak giziburuk yang dibatasi hanya melalui rawatinap di tempat perawatan disadari memilikiketerbatasan dan kelemahan, yaitu faktorcakupan dan hasil/dampak. Pada tahun]2007 dalam pernyataan bersama dariWHO, WFF, UN SCN dan UNICEFdikemukakan bahwa penanganan anakgizi buruk, khususnya gizi buruk akut
(severe acute malnutrition) dapatdilakukan secara rawat jalan dimasyarakat tanpa harus dirawat di RS
atau PPG. Pernyataan tersebut didasarkan pada publikasi penelitianpenanganan gizi buruk rawat inap di RSsesuai pedoman WHO dan beberapapenelitian gizi buruk rawat jalan dimasyarakat, terutama dilakukan pada kondisi darurat di Afrika.

V.                KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang gizi tergolong dalam kategori kurang. Berdasarkan uji statistik dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi anak balita dimana p=0,05 (p≥0,05) artinya pengetahuan memiliki pengaruh terhadap status gizi anak balita yang ada di Desa Sioban Kabupaten Kepulauan  Mentawai.

Saran
Perlu adanya suatu penelitian lain yang mengkaji seberapa kuat hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita.





VI.             LAMPIRAN
ABSTRAK
Keberhasilan pengembangan bangsa ditentukan oleh ketersediaan manusia kualitas sumber daya. Gizi merupakan salah satu unsur yang menentukan impotant kesehatan dan kekayaan tingkat manusia , terutama sejak awal kehidupan yang dikenal sebagai usia anak tehe ( 0 -
5 tahun ) . Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak , drama, dan peran penting increating baik
status gizi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hubungan antara ibu tingkat pengetahuan tentang nutrisi ke bayi status gizi di desa Sioban Mentawai
Islands . Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif pada bulan Juni 2012. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun diperkirakan 345
dan sampel 75 responden sebagai
analisis data menggunakan univariat dan bivariat Berdasarkan penelitian nilai p = 0,05 ( p ≥ 0,05 ). Kesimpulan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang status gizi bayi di desa Sioban Kepulauan Mentawai. Kata kunci : Pengetahuan ibu tentang nutrisi , status gizi balita anak-anak .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar