MAKALAH FILSAFAT ILMU
HUBUNGAN
TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA
DI DESA SIOBAN
DISUSUN
OLEH :
KELAS
1C
KELOMPOK
1 (SATU)
1.
BASHOVY FERDYANSYAH NIM.
13142010157
2.
ABDUL AZIZ Z NIM.
13142010147
3.
ANITA RAHMAN NIM.
13142010154
4.
DEDDY ANDRIYAN
UTAMA NIM.
13142010160
5.
MEMET WAHYU F NIM.
13142010169
6.
NURUL KOMARIYAH NIM.
13142010177
7.
PUTRI ISABELLA NIM.
13142010178
8.
R. DINA KUNFILLAH NIM.
13142010180
9.
SITTINA OKTAFIA SARI NIM.
13142010185
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES
NGUDIA HUSADA MADURA
2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada
waktunya. Banyak rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam penyusunan
makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta bimbingan
dari dosen pembimbing (Ns.M.Hasinuddin,M.Kep), sehingga kami bisa menyelesaikan
makalah ini.
Dengan
adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan
dan doa. Tidak lupa pula kami mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki
makalah kami ini, di karenakan banyak kekurangan dalam mengerjakan makalah ini
Bangkalan,7
Oktober 2013
Kelompok 1
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber
Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang
tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Pembangunan kesehatan
sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan
melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin. Gizi merupakan
salah satu penentu bagi pencapaian peningkatan kualitas SDM dan mempengaruhi
kelangsungan hidup manusia (Siagian, 2011). Status gizi pada balita dipengaruhi
oleh banyak faktor yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor
langsung berupa asupan makanan itu sendiri dan kondisi kesehatan anak misalnya
infeksi. Sedangkan faktor tidak langsung adalah pengetahuan ibu tentang gizi,
pendapatan keluarga, pelayanan kesehatan dan social budaya. Makanan dan minuman
dapat memelihara kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dapat menjadi penyebab
menurunnya kesehatan seseorang dan status gizi bahkan mendatangkan penyakit.
Hal ini sangat tergantung pada perilaku seseorang terhadap makanan tersebut
(Notoadmojo, 2003). Ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak memegang
peranan penting dalam menciptakan status gizi anak yang baik. Kerena anak belum
bisa mengurus dirinya sendiri. Perilaku ibu dalam hal gizi menentukan status
gizi anaknya tersebut apakah baik atau jelek. Perilaku ini salah satunya
dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki ibu terhadap gizi (Anonimus,
2008). Anak balita merupakan salah satu golongan penduduk yang rawan terhadap masalah
gizi. Mereka mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga
membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai. Bila
sampai terjadi kurang gizi pada masa balita dapat menimbulkan gangguan
pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental (Tarigan, 2003). Berdasarkan data
Puskesmas Sioban tahun 2010, jumlah anak balita di Desa Sioban sebanyak 345
orang, diantaranya balita yang memiliki status gizi baik 216 orang, balita yang
memiliki status gizi kurang 105 dan balita yang memiliki satatus gizi buruk
sebanyak 24 orang. Desa Sioban terletak di Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Desa Sioban memiliki jumlah penduduk kurang
lebih 1.735 orang, sebagian penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani
dengan tingkat pendidikan yang bervariasi mulai dari lulus SD sampai Perguruan
Tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang bervariasi maka tingkat pengetahuan yang
dimiliki juga bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita di Desa Sioban
Kabupaten Kepulauan Mentawai.
II.
TUJUAN
PENELITIAN
Melakukan estimasi hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi
dengan status gizi balita di desa Sioban kabupaten kepulauan Mentawai.
III.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2012, bertempat di
Desa Sioban Kabupaten Kepulauan Mentawai. Alat yang digunakan dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan format wawancara. Deskripsi daerah penelitian ini
adalah Desa Sioban terletak di Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan
Mentawai, Sumatera Barat. Luas daerah Sioban 65,31km². Ketinggian dari
permukaan laut 2m. Desa Sioban memiliki jumlah penduduk kurang lebih 1.735
orang (BPS Mentawai,2010). Analisis data dengan menggunakan analisis Univariat
dan Bivariat. Analisis Univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran distribusi
frekwensi dari masingmasing variabel. Analisis Bivariat dilakukan untuk melihat
hubungan antara dua variabel dengan menggunakan chisquare (X² ). Untuk uji
kemaknaan hubungan digunakan tingkat kepercayaan 95% (0,95) dimana nilai p
(p-value) pada tingkat kemaknaan 0,05 adalah sebagai berikut :
Bila p-value ≥ 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan antara dua
variabel. Bila p-value < 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara
dua variable (Arikunto, 2010).
IV.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Tabel 1. Hasil Distribusi Frekwensi Anak Balita Berdasarkan Status
Gizi.
NO.
|
STATUS GIZI
|
FREKUENSI
|
%
|
1.
|
GIZI BURUK
|
24
|
32
|
2.
|
GIZI KURANG
|
26
|
34.66
|
3.
|
GIZI BAIK
|
25
|
33.33
|
JUMLAH
|
75
|
100
|
|
Tabel 2. Hasil Distribusi Frekwensi (Ibu) Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan.
NO
|
PENGETAHUAN
|
FREKUENSI
|
%
|
1.
|
BAIK
|
16
|
21.33
|
2.
|
KURANG
|
59
|
78.66
|
JUMLAH
|
75
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa status gizi balita dengan
status gizi buruk 32%, gizi kurang 34,66% dan status gizi baik 33,33%.
Berdasarkan informasi dari Puskesmas dan kader Posyandu terjadinya gizi kurang
dan gizi buruk di Desa Sioban disebabkan karena masih terdapatnya ibu-ibu yang
tidak membawa anaknya keposyandu setelah 2 tahun sehingga status gizi anak
tidak terpantau dengan baik. Hal ini harus ditanggulangi secepatnya oleh pihak
Puskesmas. Terjadinya gizi buruk pada anak merupakan dampak akhir dari sejumlah
faktor, baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu adanya faktor resiko yang
bersumber dari masyarakat, keluarga dan ibu sendiri mendorong atau mempermudah
terjadinya gizi buruk (Moehyi, 2008). Masih terdapatnya gizi buruk dan gizi
kurang di Desa Sioban ini mungkin disebabkan karena perilaku ibu yang masih
rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian (Agus. Z, 2004) yang mengatakan bahwa
kekurangan gizi pada balita dapat disebabkan pada perilaku ibu yang salah memilih
bahan makanan yang cocok untuk anak. Kesalahan dalam perilaku ini akan berdampak
pada keadaan status gizi dari anak balita. Anak balita merupakan salah satu
kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan
kelompok umur yang paling menderita akibat gizi. Berdasarkan analisis univariat
pada tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 75 responden 16 orang memiliki
pengetahuan yang baik (21,33%), dan 59 orang Memiliki pengetahuan tentang gizi
rendah (78,66%). Artinya lebih dari separuh ibu-ibu Memiliki pengetahuan yang
rendah mengenai makanan bergizi, zat makanan, pemberian makanan pada balita,
gangguan gizi, fungsi ASI, dan posyandu. Menurut (Notoadmojo, 2003) pengetahuan
ibu dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya tingkat pendidi kan ibu, paparan
informasi atau media masa. Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan melalui
proses belajar. Dengan pengetahuan yang dimiliki manusia akan depat menganalisa
permasalahan atu objek yang dihadapi dengan pola pikir yang logis dan rasional.
Berdasarkan data yang didapat saat penelitian, rendahnya pengetahuan yang dimiliki
ibu mungkin disebabkan karena tingkat pendidikan ibu lebih dari separuh adalah
tamatan SD, dan bahkan ada yang tidak tamat SD. Hal ini sejalan dengan teori (Notoadmojo,
2003) yang mengatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan
makin tinggi pula intelektualnya. Pendidikan merupakan hal penting utnuk
meningkatkan pengetahuan karena pengetahuan merupakan faktor yang mendahului
atau motivasi untuk perilaku. Beliau menggolongkan pendidikan seseorang menjadi
pendidikan tinggi dan rendah. Pendidikan seseorang dikatakan tinggi jika
tamatan SMA/sederajat dan jenjang Perguruan Tinggi sedangkan dalam pendidikan
rendah tamatan SD atau tidak sekolah. Ibu yang berpendidikan rendah akan
mempengaruhi pengetahuan tentang gizi seperti dalam pemilihan makanan penyusunan
menu keluarga, pengolahan makanan yang disajikan pada balita. Selain itu
pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor paparan informasi atau media masa.
Informasi bisa diperoleh dari penyuluhan, buku, TV, surat kabar, dan lainlain. Seorang
ibu yang hanya tamatan SD belum tentu pengetahuannya jauh lebih rendah
dibanding dengan ibu-ibu yang tamat dari sekolah lanjutan, karena pengetahuan itu
tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah namun pengetahuan bisa diperoleh dari
pengalaman hidup sehari-hari.
Analisis Bivariat.
Tabel 3. Hasil hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang Gizi dengan
status Gizi balita di Desa Sioban.
PENGETAHUAN
|
STATUS GIZI
|
JUMLAH
|
|||||
BURUK
|
%
|
KURANG
|
%
|
BAIK
|
%
|
||
BAIK
|
2
|
12,5
|
0
|
0
|
14
|
87.5
|
16
|
KURANG
|
22
|
37,3
|
26
|
44
|
11
|
18,6
|
59
|
P = 0,05
Berdasarkan analisa bivariat pada tabel 3 dapat dilihat bahwa
terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi anak
balita, dimana p=0,05 (P≥0,05). Artinya pengetahuan memiliki pengaruh terhadap
status gizi anak. Dapat dilihat dari tabel 3 bahwa dari 59 orang memiliki
pengetahuan yang rendah dengan anaknya berstatus gizi kurang dan gizi buruk. Hal
ini menunjukan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi berpengaruh terhadap status
gizi anak. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori (Suhardjo, 1996),
menyatakan bahwa keadaan gizi kurang dan gizi buruk disebabkan karena kurangnya
pengetahuan ibu tentang kebutuhan makanan dan kurangnya pendidikan yang
dimiliki oleh ibu. Selain itu, juga menyatakan bahwa dengan meningkatkan
pengetahuan gizi ibu diharapkan semakin meningkat kemampuan ibu dalam memilih
dan merencanakan makanan dengan ragam dan kombinasi yang tepat sesuai degan
syarat gizi. Dari penelitian ini masih terdapat ibu yang memiliki pengetahuan
tinggi tapi memiliki anak dengan status gizi buruk. Ketidak sesuaian ini bisa
terjadi karena pengetahuan yang tinggi belum tentu diikuti oleh sikap dan
praktek yang tinggi pula. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor lain keadaan
ekonomi, keluarga yang termasuk keluarga miskin, tradisi dan keadaan lingkungan
(Amos, 2001).
Cara
Penanganan Gizi Buruk
Untuk
menangani masalah gizi buruk, diperlukan kesiapan tenaga kesehatan dan
masyarakat secara terpadu di tiap jenjang administrasi, termasuk kesiapan
sarana pelayanan kesehatan, seperti Rumah Sakit, Puskesmas hingga Posyandu.
Penderita gizi buruk harus dirawat inap di Rumah Sakit sesuai anjuran dan
pedoman WHO yang kemudian ditindaklanjuti dengan pedoman yang disusun oleh
Departemen Kesehatan RI. Dalam perkembangan selanjutnya, perawatan anak gizi
buruk dapat dilakukan di Pusat Pemulihan Gizi (PPG). Tata laksana anak gizi
buruk di Rumah Sakit atau PPG sesuai pedoman WHO terdiri dari 10 langkah,
yaitu:7
-
Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
-
Mencegah dan mengatasi hipotermia
-
Mencegah dan mengatasi dehidrasi
-
Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
-
Mengobati infeksi
-
Memperbaiki defisiensi zat gizi mikro
-
Pemberian makanan awal
-
Meningkatkan pemberian makanan untuk tumbuh kejar
-
Stimulasi perkembangan emosional dan sensorik
-
Mempersiapkan tindak lanjut di rumah
Langkah-langkah
tersebut dilakukan dalam 3 fase meliputi:
penanganan awal (initial treatment),
yaitu pada minggu pertama; rehabilitasi (rehabilitation) pada minggu
kedua hingga keenam; dan tindak lanjut (follow-up) pada minggu ketujuh
hingga minggu ke-26. Dalam pedoman yang disusun oleh Depkes tahun 1999,
langkah-langkah penanganan tersebut dilakukan dalam 4 fase.12 Perbedaannya
terletak pada penanganan minggu kedua hingga keenam atau fase rehabilitasi,
yang
dibagi menjadi fase transisi, yaitu pada minggu kedua, dilanjutkan dengan fase
rehabilitasi mulai minggu ketiga hingga keenam. Pemberian makanan pada anak
gizi buruk dimulai dengan formula diet WHO, yaitu formula 75 (F75) dan formula
100 (F100). Komposisi formula diet ini terdiri dari susu, gula dan minyak,
untuk F75 bisa ditambahkan tepung serealia. F75 mengandung energi 75 kkal untuk
tiap 100ml larutan, sedangkan F100 mengandung energi 100 kkal untuk tiap 100 ml
larutan. Jumlah formula diet yang diberikan sehari disesuaikan dengan kondisi
klinis anak (ada tidaknya edema) dan BB anak. Selanjutnya diberikan makanan
secara bertahap, yaitu tinggi kalori dan tinggi protein. Kriteria anak untuk
keluar dari RS sesuai pedoman WHO antara lain adalah apabila telah tercapai
BB/PB -1 SD.7 Kriteria tersebut tampaknya cukup sulit dicapai dan dalam pedoman
yang dikeluarkan oleh Depkes pada tahun
2003,
anak dikatakan sembuh apabila tidak ada gejala klinis dan BB/PB ≥ -2 SD.
Sementara kriteria pemulangan anak dari ruang rawat inap di RS antara lain
adalah apabila tidak ada gejala klinis gizi buruk
dan
BB/PB ≥ -3 SD. Selanjutnya anak harus mendapatkan makanan tambahan pemulihan
sampai status gizi anak mencapai > -2 SD, yaitu kategori sembuh dari gizi
buruk.13 Untuk memperbaiki gangguan
keseimbangan
elektrolit dan defisiensivitamin, WHO telah menetapkankomposisi Mineral Mix
(MM) dan VitaminMix yang selanjutnya dapat dibuat di masing-masing negara.
Unsur mineral
dalam
MM terdiri dari K, Mg, Zn, Cu, Na, I,sedangkan vitamin mix terdiri dari
vitaminPGM 2011, 34(1): 1-11 Kajian penanganan anak gizi buruk dan
prospeknya Arnelia5B1, B2, B5, B6, B12, asam folat, niasin, A,D, E dan K.
Untuk Indonesia, MM sesuaispesifikasi WHO baru, tersedia secaraluas sejak tahun
2009 berupa serbukdalam kemasan saset dari perusahaanfarmasi nasional.
Sebelumnya MM dalambentuk larutan baru dibuat secara terbatasdi beberapa
instalasi farmasi RS, terutamauntuk memenuhi kebutuhan pasien yangdirawat di RS
bersangkutan ataumemenuhi permintaan beberapa institusiyang membutuhkan. Untuk
vitamin mixtampaknya tidak ada kendala karenasecara komersial cukup banyak
tersediavitamin mix di Indonesia yang sesuai dengan komposisi yang
dianjurkan.Pendekatan penanganan anak giziburuk yang dibatasi hanya melalui
rawatinap di tempat perawatan disadari memilikiketerbatasan dan kelemahan,
yaitu faktorcakupan dan hasil/dampak. Pada tahun]2007 dalam pernyataan bersama
dariWHO, WFF, UN SCN dan UNICEFdikemukakan bahwa penanganan anakgizi buruk,
khususnya gizi buruk akut
(severe
acute malnutrition) dapatdilakukan secara rawat jalan dimasyarakat tanpa
harus dirawat di RS
atau
PPG. Pernyataan tersebut didasarkan pada publikasi penelitianpenanganan gizi
buruk rawat inap di RSsesuai pedoman WHO dan beberapapenelitian gizi buruk
rawat jalan dimasyarakat, terutama dilakukan pada kondisi darurat di Afrika.
V.
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat
pengetahuan ibu tentang gizi tergolong dalam kategori kurang. Berdasarkan uji
statistik dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu
tentang gizi dengan status gizi anak balita dimana p=0,05 (p≥0,05) artinya pengetahuan
memiliki pengaruh terhadap status gizi anak balita yang ada di Desa Sioban
Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Saran
Perlu adanya suatu penelitian lain yang mengkaji seberapa kuat
hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita.
VI.
LAMPIRAN
ABSTRAK
Keberhasilan pengembangan bangsa ditentukan
oleh ketersediaan manusia kualitas sumber daya. Gizi merupakan salah
satu unsur yang menentukan impotant kesehatan dan kekayaan tingkat manusia , terutama sejak awal kehidupan yang dikenal sebagai usia
anak tehe ( 0 -
5 tahun ) . Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak , drama, dan peran penting increating baik status gizi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hubungan antara ibu tingkat pengetahuan tentang nutrisi ke bayi status gizi di desa Sioban Mentawai
Islands . Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif pada bulan Juni 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun diperkirakan 345
dan sampel 75 responden sebagai analisis data menggunakan univariat dan bivariat Berdasarkan penelitian nilai p = 0,05 ( p ≥ 0,05 ). Kesimpulan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang status gizi bayi di desa Sioban Kepulauan Mentawai. Kata kunci : Pengetahuan ibu tentang nutrisi , status gizi balita anak-anak .
5 tahun ) . Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak , drama, dan peran penting increating baik status gizi . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hubungan antara ibu tingkat pengetahuan tentang nutrisi ke bayi status gizi di desa Sioban Mentawai
Islands . Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif pada bulan Juni 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun diperkirakan 345
dan sampel 75 responden sebagai analisis data menggunakan univariat dan bivariat Berdasarkan penelitian nilai p = 0,05 ( p ≥ 0,05 ). Kesimpulan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang status gizi bayi di desa Sioban Kepulauan Mentawai. Kata kunci : Pengetahuan ibu tentang nutrisi , status gizi balita anak-anak .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar